Makan Popcorn di @ptthead, Pacific Place
Beda dengan kebanyakan drinking hole yang lain, suguhan camilannya bukan jenis kacang-kacangan. Bukan kacang tanah, kacang polong, kacang panjang, atau edamame. Tapi popcorn. Tinggal diputerin filem, kita nonton deh.

Tapi kayaknya sih nggak ada tontonan blockbuster kayak di bioskop gitu. Yang ada adalah nonton srimulat a la bartender dan cocktail-makers (apa sih nama kerennya?) di sana. Walaupun pesanan berbagai macam minuman tak henti-hentinya mengalir (kayak Bengawan Solo), mereka tetep aja ceria gitu. Ya namanya kerja bareng-bareng, kayaknya kompak dan nggak kalah sama Sule deh.
Ini Mas Gandung. Yang bayangan putih di sebelahnya itu Mas Yance :)
Yang seberang satu lagi, yang mirip bayangannya Anang aku lupa namanya siapa.
Sebenarnya, saya sampai di the Potato Head ini juga serba kebetulan. Akibat janji makan malam dengan teman. Dari semua mall yang tersebar di jalur busway, Pacific Place adalah yang paling jarang dikunjungi. Nggak cuma jarang, mungkin baru kali ini menjelajahi mall yang ternyata luar binasa besar dan maha-gaung ini. Biasanya langsung ketemu Della @ Yahoo! atau cuma sampai di halte taksi seberang BEJ saja.
Nemu tempat ini juga karena harus mengunjungi tempat peturasan. Ini bar sangat ‘menjebak’ sekali. Di salah satu pojok tempat peturasan dan ATM, ada sebuah pintu geser kecil dengan tulisan “Potato Head” ditempel di sebelah pintu itu. Pintu apakah itu? Bagi orang-orang yang selalu penasaran, tentu saja tidak baik ada pintu aneh yang tidak kita kunjungi, kan? Nah lalu? Selamat datang!
Hup hup hup.
Spesialisasi tempat ini tentu segala macam jenis cocktail, selain makanan bar dengan menu a la gastropub. Kata para bartender yang silih berganti dengan sabarnya menjawab semua pertanyaan saya, beberapa makanan yang paling laku di antara para pengunjung (yang biasanya adalah jenis orang kantoran) itu ya burger wagyu atau pastry-pastry yang katanya semuanya enak. Ini pake ‘katanya’ karena aku emang nggak nyobain makanannya, jadi ya nggak bisa bilang enak apa nggak gitu. 
Mas Yahya lagi bikin Cuban Master: 
Kalau malam, ruangannya remang-remang pisan, bener-bener kalau ke sana harus bawa senter kalau mau baca buku. Atau bawa teman (lumayan, di sini musik-musiknya nggak gitu berisik kayak di bar/club/cafe kebanyakan, jadi ngomong juga nggak usah kayak mau putus urat nadi). Tapi kata Mas Yahya, kalo siang terang kok, makanya jadi tempat favorit untuk business lunch atau sekadar kabur dari kantor untuk makan siang. Di tempat itu banyak orang kantoran kayaknya, waktu aku ke sana, di hari sabtu, ada dua bapak-bapak Australia dengan dandanan jas lengkap malah sibuk melototin spreadsheet di laptop di pojok bar (tempat yang paling terang, dengan lampu yang kapnya hasil memulung badan engine pesawat).

Konsep the Potato Head kayaknya nggak cuma tempat untuk makan dan minum, tapi tempat untuk berkomunitas. Sekali sebulan, the Potato Head ngadain Sunday Market yang menjual produk-produk tani dan makanan-makanan unik (kayaknya). Aku sih belum tau bentuk Sunday Marketnya itu yang kayak mana, soalnya untuk bulan Mei, pasar minggunya diadakan akhir bulan (tanggal 29 gitu). Kecuali kalau kebetulan lagi di Bali, bisa ngelihat Sunday Market di Potato Head cabang Bali, tanggal 15 Mei. 
Potato Head
Pacific Place Lt. G51A
Tel: 021-57973322
